Siang ini saya baru pulang dari bandara untuk mengantarkan teman dan keluarganya pulang. Badan agak terasa sedikit letih. Kenapa ya? mungkin disebabkan perjalanan yang baru saja dilalui memang cukup jauh, karena jarak antara Cibubur ke Soekarno-Hatta 60 km dan biasanya ditempuh dalam waktu satu setengah jam, itupun kalau di jalan tidak kena macet. Teman saya ini pulang setelah beberapa lama tinggal bersama kami di Jakarta. Sungguh ada pelajaran yang amat berharga yang saya peroleh dari teman yang satu ini.
Dulu kami pernah tinggal di kota yang sama, kurang lebih 7,5 tahun lamanya. Kami pun pernah juga dalam satu departemen yang sama di kantor. Banyak hal yang telah kami lalui bersama, sampai akhirnya saya harus pindah ke kota lain dan diapun saat ini belum beranjak dari kota yang letaknya hanya berjarak 12 mil dari Singapura itu. Ya, kami pernah sama-sama di Batam.
Meski usianya terpaut cukup jauh dari saya, kurang lebih dia 15 tahun lebih tua, tapi dalam banyak hal ketika kami berdiskusi ternyata masih bisa saling memahami.
Kisah ini berawal beberapa bulan yang lalu, ketika kami memperoleh khabar tentang penyakit yang diderita istrinya, dan harus mendapat tindakan medis di Jakarta, sejak itulah kami mulai kembali sering bertemu karena beliau mesti bolak balik Batam-Jakarta.
Tak banyak yang berubah dari dirinya, hanya wajahnya saja yang tampak lebih tua. Di Jakarta, dia harus sering ke rumah sakit untuk menemani istrinya. Saya hanya sekedar mengantar dari rumah saya ke rumah sakit, itupun jika tidak bentrok dengan jadwal kuliah.
Bagi saya, apa yang dialaminya tentu merupakan cobaan yang sangat berat. Namun dengan penuh kesabaran dan ketabahan semua itu ternyata dijalaninya dengan penuh keikhlasan. Tak pernah terucap sekalipun dibibirnya keluhan akan derita yang dialami istrinya. Semua mengalir begitu saja, bagai air yang tak bertemu bebatuan. Tak beriak atau bahkan berombak sama sekali.
Padahal pernah juga ketika mereka putuskan untuk tidak berangkat ke Jakarta dan melakukan tindakan medis lanjutan hanya di Batam saja. Apa yang terjadi? Sungguh yang dialaminya ternyata berakibat kurang baik bagi kesehatan istrinya. Ini semua terjadi akibat tindakan medis yang tidak sama perlakuannya dengan rumah sakit yang ada di Jakarta. Apa komentarnya? ”ya semoga ini tidak terjadi pada orang lain, cukup saya saja yang mengalaminya”, begitu katanya ketika itu. Memang untuk menyembuhkan penyakit istrinya ini harus melalui serangkaian tindakan yang tidak memakan waktu singkat.
Sekarang meskipun belum seluruh tahapan medis selesai dilaksanakan namun istrinya kini sudah lebih baik dan telah punya semangat baru. Kami semua berharap mudah-mudahan kesehatan sang ibu lebih baik lagi di hari-hari yang akan datang.
”Teman……., aku belajar banyak darimu, dari kesabaran dan ketabahanmu,…… aku berdoa dalam tundukku, semoga istrimu lekas sembuh”..