Feeds:
Posts
Comments

Dua hari lagi….

night

gelisah..

Mataku terbuka sedikit, tepat di depanku jam dinding berbingkai merah.. ternyata masih pukul 14:45 sore.. masih terasa berat untuk segera bangkit dari tempat tidur ini. Cukup lumayan, rupanya hampir satu jam aku terlelap.. hitung-hitung tidur siang ini buat kompensasi karena tadi malam mataku baru bisa terpejam di saat malam hampir menjelang dini hari.

Masih di atas tempat tidur, coba sebentar aku mengingat-ingat mimpi yang baru terjadi. ah.. mimpi yang aneh sepertinya.. Mungkin mimpiku tadi akibat perasaan gelisah yang tak kunjung dapat kutepis.

yaa.. masih dua hari lagi.. pada hari jum’at ini, akhirnya hari yang telah lama kunanti itu bakal tiba,..

Yaa, Allah.. mudahkan lah hari itu bagiku.. lapangkanlah jalanku,..

Amiinn

Siang ini saya baru pulang dari bandara untuk mengantarkan teman dan keluarganya pulang. Badan agak terasa sedikit letih. Kenapa ya? mungkin disebabkan perjalanan yang baru saja dilalui memang cukup jauh, karena jarak antara Cibubur ke Soekarno-Hatta 60 km dan biasanya ditempuh dalam waktu satu setengah jam, itupun kalau di jalan tidak kena macet. Teman saya ini pulang setelah beberapa lama tinggal bersama kami di Jakarta. Sungguh ada pelajaran yang amat berharga yang saya peroleh dari teman yang satu ini.

Dulu kami pernah tinggal di kota yang sama, kurang lebih 7,5 tahun lamanya. Kami pun pernah juga dalam satu departemen yang sama di kantor. Banyak hal yang telah kami lalui bersama, sampai akhirnya saya harus pindah ke kota lain dan diapun saat ini belum beranjak dari kota yang letaknya hanya berjarak 12 mil dari Singapura itu. Ya, kami pernah sama-sama di Batam.

Meski usianya terpaut cukup jauh dari saya, kurang lebih dia 15 tahun lebih tua, tapi dalam banyak hal ketika kami berdiskusi ternyata masih bisa saling memahami.

Kisah ini berawal beberapa bulan yang lalu, ketika kami memperoleh khabar tentang penyakit yang diderita istrinya, dan harus mendapat tindakan medis di Jakarta, sejak itulah kami mulai kembali sering bertemu karena beliau mesti bolak balik Batam-Jakarta.

Tak banyak yang berubah dari dirinya, hanya wajahnya saja yang tampak lebih tua. Di Jakarta, dia harus sering ke rumah sakit untuk menemani istrinya. Saya hanya sekedar mengantar dari rumah saya ke rumah sakit, itupun jika tidak bentrok dengan jadwal kuliah.

Bagi saya, apa yang dialaminya tentu merupakan cobaan yang sangat berat. Namun dengan penuh kesabaran dan ketabahan semua itu ternyata dijalaninya dengan penuh keikhlasan. Tak pernah terucap sekalipun dibibirnya keluhan akan derita yang dialami istrinya. Semua mengalir begitu saja, bagai air yang tak bertemu bebatuan. Tak beriak atau bahkan berombak sama sekali.

Padahal pernah juga ketika mereka putuskan untuk tidak berangkat ke Jakarta dan melakukan tindakan medis lanjutan hanya di Batam saja. Apa yang terjadi? Sungguh yang dialaminya ternyata berakibat kurang baik bagi kesehatan istrinya. Ini semua terjadi akibat tindakan medis yang tidak sama perlakuannya dengan rumah sakit yang ada di Jakarta. Apa komentarnya? ”ya semoga ini tidak terjadi pada orang lain, cukup saya saja yang mengalaminya”, begitu katanya ketika itu. Memang untuk menyembuhkan penyakit istrinya ini harus melalui serangkaian tindakan yang tidak memakan waktu singkat.

Sekarang meskipun belum seluruh tahapan medis selesai dilaksanakan namun istrinya kini sudah lebih baik dan telah punya semangat baru. Kami semua berharap mudah-mudahan kesehatan sang ibu lebih baik lagi di hari-hari yang akan datang.

”Teman……., aku belajar banyak darimu, dari kesabaran dan ketabahanmu,…… aku berdoa dalam tundukku, semoga istrimu lekas sembuh”..

Tentukan pilihan Anda

Pasti anda pernah berada pada suatu keadaan yang memaksa anda harus menentukan pilihan yang ternyata cuma ada 2 pilihan. Peluang keduanya adalah 50:50. Artinya peluangnya sama. Karena itu anda harus memilih salah satu dari keduanya. Apa ya? Misalnya ambil atau tinggalkan. Pergi atau pulang. Berhenti atau terus. Banyak lagi contoh kata yang lain, tapi intinya harus pilih salah satu.

Contoh lebih konkritnya begini. Suatu ketika anda dihadapkan pada pilihan harus tetap bekerja di perusahaan tempat anda bernaung saat ini atau anda malah harus berhenti dan pindah ke perusahaan lain yang lebih menjanjikan. Anda merasa kurang enjoy di tempat sekarang, dan pengen cepat-cepat pindah. Anda tentu akan merasa serba salah akan terus bekerja atau pindah ke perusahaan lain. Kenapa? Karena belum tentu di tempat yang baru lebih baik dari saat ini.

Hal yang sama juga bisa saja terjadi jika anda adalah seorang investor saham. Pilihan antara melepas saham atau menjualnya. Bila menjual saham sekarang anda mungkin dapat mengambil keuntungan dari selisih harga di masa lalu, atau jika tetap memegangnya maka anda berharap akan memperoleh return yang lebih tinggi lagi, tp ini juga beresiko, karena bisa saja harga saham anda malah turun. Bingung khan? Jual atau tahan.

Nah, bagi tiap-tiap orang preferensi pilihannya pasti berbeda. Ada yang maunya tetap pada kondisi sekarang atau malah berubah saja dengan konsekuensi belum tentu perubahan tersebut menjadi lebih baik.

Kalau saya, sejak dulu biasanya memilih untuk berubah dari kondisi saat ini. Suatu ketika saya dihadapkan atas pilihan untuk kerja atau kuliah. Kerja sebelum kuliah selesai tentu penghasilannya pasti lebih kecil dibanding dengan yang habis kuliah baru kerja. Belum lagi karir yang tentu saja bagai menaiki bukit yang terjal. Jika pilih kuliah maka saya punya harapan mendapat pekerjaan dan posisi yang lebih baik dari bekerja jika tanpa ijazah universitas. Pilihan saya waktu itu, ya kerja dulu baru kuliah menyusul. Alhamdulillah ternyata pilihan saya menurut saya tepat. Kalau pilihan untuk pindah perusahaan belum pernah saya alami. Tapi pilihan antara promosi dan pindah ke kota yang menurut saya tidak lebih enak dari kota tempat saya tinggal pernah juga. Ya saya pilih pindah aja, meskipun diiming-imingi sama bos kalau sabar ntar tetap promosi juga tanpa perlu pindah kota. Sejauh ini hasilnya baik-baik aja.

Menurut Tanadi Santoso, seorang pakar motivasi dan konsultan keuangan di Jakarta, bahwa menurut sebuah penelitian ternyata orang-orang yang memilih untuk berubah, misal memilih untuk pindah dari pekerjaan mereka saat ini dan hasilnya ternyata tidak lebih baik malah lebih buruk dari yang diharapkan, maka orang-orang tersebut ternyata lebih bisa untuk cepat memaafkan diri mereka sendiri dan dapat mencari pembenaran dari keputusan di masa lalu yang telah diambilnya. Dan ternyata bagi orang yang memilih untuk tetap pada pekerjaan mereka saat ini dan ternyata yang terjadi malah lebih buruk dari saat harapnnya, maka orang-orang ini lebih tidak bisa memafkan diri merkea dan keputusannya untuk tidak pindah saja ke perusahaan mereka di masa lalu saat di mana pilihan itu datang.

Nah, anda ada di pihak yang mana? Belum tentu setiap orang punya kesempatan untuk memilih, lho….

1 Ramadhan 1429 H

Risiko dan hidup

Risiko dan hidup merupakan dua kata yang menyatu dan tidak bisa hadir kecuali bergandengan. Hidup yang kita lalui ini bermakna melaksanakan tindakan. Dan tindakan itu adalah output dari sebuah keputusan. Sedangkan keputusan itu sendiri berdasar atas informasi-informasi yang tidak sempurna. Dengan demikian itu berarti kehidupan yang kita jalani saat ini mengandung ketidakpastian dan dari ketidakpastian inilah risiko itu berasal.

Jika saja semua hal dalam hidup ini dapat dipastikan maka kita sebagai manusia tentu saja dapat menghindari apa yang tidak diharapkan dan sudah pasti selalu dapat memperoleh yang kita inginkan. Jika saja hal itu terjadi di dunia maka itu berarti kita tidak memerlukan hal-hal lain untuk bertahan hidup. Karena hidup tanpa risiko berarti hidup yang telah kehilangan makna dari hidup itu sendiri.

Sejak kita lahir risiko itu sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri kita. Bila masih kanak-kanak maka keputusan dan risiko biasanya ada pada orangtua yang memelihara dan membesarkan kita. Dan setelah tumbuh menjadi individu yang dewasa maka keputusan dan risiko adalah menjadi tanggung jawab kita sendiri. Mulai dari menentukan sekolah dan akhirnya bidang pekerjaan yang kita pilih semuanya memiliki risiko. Biasanya semakin tinggi hasil yang kita harapkan dari sebuah keputusan maka risikonya juga semakin tinggi pula. Begitu pula ketika kita memilih pasangan hidup maka sudah pasti banyak pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasar memilih pasangan. Secara tidak sadar ketika kita memilih pasangan maka ada bagian risiko yang menjadi pertimbangan kita. Kemungkinan baik dan buruk dari pilihan kita itulah yang menjadi risikonya.

Dalam prinsip ekonomi ada istilah “dengan effort yang sekecil-kecilnya menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya”. Apa mungkin ini terjadi? bisa ya, bisa tidak. Namun mengutip apa yang disampaikan oleh Professor Roy Sembel seorang pakar keuangan dan investasi Indonesia juga salah seorang dosen Pasca Sarjana ABFI-Institute Perbanas seharusnya yang ada adalah “low risk, low return, high risk, high return and no risk, risk free“.. Jadi semakin besar keuntungan yang kita inginkan maka bersiap-siaplah menghadapi risiko yang besar pula.

Anda mungkin bertanya kenapa Blog ini memiliki tag-line yang bertema tentang risiko. Ya itu tadi karena memang risiko adalah bagian yang tidak bisa kita ingkari dalam hidup. Dengan memahami setiap risiko yang timbul maka kita tentu dapat mengelola risiko itu serta meminimalisasikan efek negatif yang mungkin muncul. Dalam blog ini penulis ingin berbagi pengalaman-pengalaman penulis yang mungkin bisa menjadi pelajaran bagi penulis sendiri di kemudian hari serta mungkin saja berguna bagi orang lain yang kebetulan membaca blog ini. Belajar dari pengalaman berarti belajar dari guru yang paling hebat. Karena guru yang terbaik adalah pengalaman.

note : malam ini dingin sekali baru habis hujan lebat di cibubur

Sebelum dan sesudah menikah pasti banyak perbedaannya. Salah satunya adalah soal pengelolaan keuangan. Untuk urusan yang satu ini seringkali menjadi asal muasal kisruhnya rumah tangga. Dahulu sebelum menikah kalau soal pengeluaran bulanan tak terlalu bikin sakit kepala, karena cuma untuk memenuhi kebutuhan satu individu saja. Namun bagi pasangan yang sudah menikah tentu lain lagi ceritanya. Adanya prioritas pengeluaran serta tujuan-tujuan lainnya yang harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasangannya. Syukur-syukur kalau pasangan suami-istri ini punya visi dan misi yang sama dalam hal pengelolaan keuangan rumah tangganya. Kalau tidak, maka bahtera rumah tangga bisa tidak sampai ke tujuan.

Beberapa teman ada yang mensiasati dengan membuka rekening bersama. Namun ini juga belum tentu sebagai jalan keluar yang terbaik. Kecendrungan salah satu pasangan untuk menguras habis isi rekening masih bisa saja terjadi apabila tidak punya komitmen yang sama kuat. Untunglah kini kita bisa minta pihak bank untuk hanya membolehkan pengambilan rekening dengan syarat mendapat persetujuan suami-istri tersebut.

Tujuan kita membuat rekening bersama adalah menumbuhkan rasa kebersamaan dalam rumah tangga. Sebab bila ini diabaikan maka akan ada sesuatu yang hilang dalam berumah tangga. Namun menurut saya jika visi dan misi antara kita dan pasangan sudah sama sejak awal yaitu berapa banyak uang yang mesti ditabungkan setiap bulan, berapa banyak uang yang dihabiskan untuk kebutuhan harian dan seberapa besar sisanya untuk investasi maka memiliki tabungan bersama adalah suatu keniscayaan.

Beberapa bulan yang lalu saya pernah terlilit hutang kartu kredit yang sepertinya nggak bakalan bisa lunas. Setiap bulan saya hanya sanggup membayar pokoknya saja, kurang lebih 2,5 juta untuk keseluruhan kartu kredit yang saya miliki. Ada lima buah kartu kredit yang selalu terselip di dompet saya. Semua masalah ini bermula dari kebiasaan saya yang selalu menggunakan kartu kredit untuk membeli tiket perjalanan dinas. Maklum, di kantor saya biaya perjalanan dinas baru dibayar sebulan setelah acara kantor tersebut kelar. Nah begitu uang sudah jalan tadi sudah diterima, selalu saja ada kebutuan lain yang harus saya bayar dengan uang tersebut. Misalkan, untuk belanja di Mall, untuk makan-makan bareng teman kantor dan parahnya lagi kadang-kadang saya sampai tidak tau uangnya lari kemana. Ujung-ujungnya uang tadi nggak jadi untuk membayar tagihan kartu kredit.

Sementara setiap bulan saya juga masih harus membayar kebutuhan harian buat keluarga. Akibatnya saya nggak bisa nabung, dan ternyata sayacuman bayarin bunga-bunga kartu kredit aja, jumlah tagihannya ngak pernah berkurang. Hal ini berlangsung kurang lebih selama setahun. Semula saya sedikit egois dalam mengambil keputusan tentang keuangan keluarga. Untunglah istri saya paham benar dengan kondisi ini dan akhirnya kami sepakat prioritas utama adalah melunasi hutang-hutang kartu kredit tersebut dan tdak menambahnya lagi jika uang cash belum ada di tangan kami.

Sejak saat itu rasanya hidup saya enteng banget. Serasa beban berat yang selama ini saya pikul sendiri terlepas dari pundakku. Ternyata lebih baik tidak punya tabungan dari pada masih ada hutang di kartu kredit yang tersisa.

Kembali soal rekening bersama tadi, saya pikir saat ini kami belum membutuhkannya. Karena ternyata dengan sikap terbuka dalam mengelola keuangan keluarga maka segala masalah pasti dapat diatasi dan satu lagi tujuan pengelolaan keuangan juga bisa dicapai secara bersama-sama. Sekarang kami sedang menunggu kelahiran anak kedua kami. Saya sudah bertekad setelah bulan lau berhasil merecovery kondisi keuangan dari lilitan hutang kartu kredit maka tabungan dan investasi adalah tujuan saya selanjutnya. Mungkin setelah punya penghasilan tetap lainnya di luar gaji perusahaan pilihan memiliki rekening bersama bisa diwujudkan.

Dan sejak saat ini saya bulatkan tekad untukberkata  “Never for Credit Card“…

Memaksa itu ternyata baik

left hand

Left Hand

Temanku Frans Nadeak namanya. Lelaki muda yang berasal dari tanah Batak dan kini tinggal di Batam. Dari melihat tampangnya saja sudah tentu kita bisa menebak dari mana asalnya. Meskipun lama tinggal dan kuliah di Bandung namun logat bataknya tak pernah hilang dari bibirnya. Beberapa tahun yang lalu kami pernah mengikuti training selama seminggu bersama-sama. Disitu saya baru sadar klo ternyata suara si Frans mirip sekali dengan suara seorang mantan petinju terkenal di masa dulu, “Syamsul Anwar Harahap“. Petinju amatir yang pernah mengalahkan Thomas Hearns di piala presiden.

Tapi sekarang ini saya bukan ingin membicarakan tentang dirinya sebagai orang batak. Ada beberapa hal unik pada dirinya yang  masih saja membekas dalam ingatanku. Meskipun sudah hampir dua tahun kami tidak dalam satu kota yang sama.

Pada waktu itu sekitar tahun 2005 Frans belum menikah. Sehingga waktunya sebagian besar dia habiskan di kantor. Jam pulang kantornya juga melebihi jam kantor kita-kita. Tak ada yang aneh dengan hal ini, karena kebiasaan seperti itu juga saya lakukan waktu masih melajang dulu.

Tak banyak teman-teman kantor kami yang mau berdebat meskipun pada hal-hal yang ringan saja dengannya. Di samping Frans pasti sudah punya segudang jawaban dan dalih karena dia anaknya memang suka membaca, tapi yang paling bikin teman-teman saya alergi adalah ketertarikannya pada ilmu filsafat. Sehingga banyak jawaban yang dianggap orang sedikit nyeleneh, kalau tidak mau dibilang aneh. Bisa-bisa kepala pusing klo sudah berdebat dengan Frans. Hanya pak Okto -teman sebelah mejanya- yang mau sesekali meladeni dia bicara banyak hal.  Suatu ketika saya sempetin maen ke rumahnya. Kesan yang saya dapat waktu itu rumah si Frans bujangan banget. Banyak sekali buku-buku yang dia miliki, tapi dengan susunan yang seadanya, jauh dari kesan rapi. Disitu saya mengerti kenapa ini anak wawasannya luas banget.

Nah ini dia yang saya pengen berbagi kisah. Sekali waktu saya dapati dia sedang menggerak-gerakkan mouse komputernya dengan menggunakan tangan kiri. Tangan kiri bo’.. Padahal Frans bukan kidal. Tak hanya sampai disitu, dia yang ternyata pada waktu itu sedang membaca sebuah artikel di internet, kemudian menyalin beberapa kalimat juga dengan tangan kiri. Aneh memang,.. ada apa gerangan dengan tangan kanannya yang kelihatannya baik-baik saja.

Baru kemarin sore saya paham setelah baca “kampiun” (sebelum ini pernah kita bahas tentang kampiun) di intranet kantorku. Ada artikel yang dipostingnya. Saya tertarik, lalu membacanya. Setelah selesai membaca seluruh tulisannya sampai habis, barulah saya sadar alasan dia menulis dengan tangan kiri.

Dalam artikel yang dia klaim sebagai karya sendiri itu, dia katakan bahwa untuk melakukan sesuatu yang baru dan belum tentu kita sukai haruslah dengan sedikit memaksakan diri. Dia lalu bercerita sebuah kisah, di masa masih kuliah dulu di Bandung. Pada waktu itu Frans ceritanya tidak menyukai musik Jazz, dan diapun sedikit memaksakan diri untuk menyukai jenis musik tersebut. Caranya unik juga. Radio miliknya di hidupkan terus-terusan selam 4 minggu pada stasiun radio yang hanya memutarkan musik Jazz. Hasilnya kini dia jadi menyukai jenis musik tersebut.

Disitu saya baru ngerti dengan kejadian tangan kiri tempo hari. Mungkin dia pengen bisa nulis dengan tangan kiri. Dengan agak memaksakan diri tentu saja. Nah, pertanyaannya apakah sekarang dia sudah mahir menggunakan tangan kirinya??? mungkin kapan-kapan saya mesti tanyakan langsung padanya.

pasrah

pasrah

Masih ingat banget saya sama peristiwa yang terjadi setahun lalu, pada saat di kantor kami lagi musim penilaian kompetensi. Sore itu menjelang maghrib Bosku teriak-teriak manggil saya ke mejanya. Jarang-jarang beliau mengajakku ngobrol. Rupanya sistem database komputer yang digunakan untuk penilaian kompetensi,   me-reject otomatis pada saat si Bos akan memberikan nilai paling bagus padaku. Pasalnya saya belum pernah meng-upload yang namanya “Kampiun” di portal kami.

Heran juga kok si Bos kali ini bisa “care” banget ke saya. Biasanya diantara kami biasa-biasa aja. Tapi sudahlah nggak usah dibahas untuk yang satu itu, yang jelas kali ini dia punya niat baik. Kembali ke soal kampiun tadi, ternyata mulai tahun lalu, syarat supaya dapat nilai K1 (kategori paling bagus dalam skala penilaian kompetensi karyawan) harus sudah pernah menyumbang paling tidak satu buah kampiun. Atau dalam bahasa sederhananya pernah buat tulisan seperti paper yang dimuat di aplikasi intranet kantor kami. Khan sekarang lagi trend dengan istilah Knowledge Management (KM). Nah kampiun itu sejenis KM di perusahaan tempatku cari makan.

Ya ampun…, perasaan udh pernah loh kirim sebanyaj dua kampiun. Tapi ternyata saya salah kirim. Kirimnya cuman via email ke si Bos tadi. Alhasil belum diupload ke sistem nasional. Sedangkan waktu yang diijinkan upload kampiun tadi sudah terlewati. Wah gawat, saya mesti rela-in nilaiku yang relatif bagus tahun ini. Ya sudah… dengan tertunduk lesu saya balik kanan ke meja kerjaku sambil dalam hati terus mengucapkan kata-kata “ikhlas,ikhlas…ikhlasin aja omm..”

Nggak tau ya,… beberapa bulan setelah peristiwa itu saya coba cek di database portal, ternyata saya masih dapat K1. Alhamdulillah, ternyata Tuhan masih sayang ama saya…

Berkaca dari peristiwa di atas, tahun ini saya sudah mempersiapkan kampiun dengan mantap. Judulnya saja “Analisis Fundamental dan Penilaian Harga Wajar Saham Perusahaanku Di Bursa Efek Indonesia…”

Pun sdah berhasil saya upload tanggal 21 kemaren. yah,.. paling tidak itu hasil dari belajarku selama satu semester di program Master pada salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

Tak banyak yang bisa saya sumbangkan buat perusahaanku, apalagi selama saya dapat bea siswa S2 di Jakarta. Seringkali merasa sedih bila mendengar cerita kawan-kawan, kalau ternyata masih banyak target yang gagal diachieve.

Ya Tuhan, mudah-mudahan saya bisa segera kembali ke kantor. Paling tidak buat menyumbang sedikit tenaga dan pikiran saya buat perusahaan yang teramat saya cintai ini…

Argentina menang 1-0 melawan Nigeria di final olimpiade Beijing. Lega juga rasanya sehabis menonton pertandingan. Maklum Argentina adalah favoritku dalam ajang empat tahunan ini. Paling tidak saya senang melihat Lionel Messi pulang ke Barca dengan kepala tegak setelah “melarikan diri” dalam persiapan pra musim timnya bulan lalu.

Awalnya sempat gregetan juga sih. Pasalnya panitia olimpiade melangsungkannya tepat di tengah hari. Wah kebayang deh pas waktu zaman sekolahan dulu kami maen bola di tengah hari. Semua energi habis terkuras. Sebentar-sebentar para pemain bola pasti maunya lari ke pinggir lapangan untuk sekedar minum buat tambah tenaga.

Nggak tau apa yang ada dalam pikiran panitia olimpiade kali ini. Padahal di babak-babak sebelumnya pertandingan di langsungkan malam hari. Termasuk pada saat Argentina menggasak Brazil di semifinal 3-0. Kasihan Dunga pasti bakal dipecat oleh federasi sepak bila Brazil.
Kembali ke soal panitia yang memainkan final di siang bolong, membuat pertandingan menjadi kurang enak ditonton. Hanya sesekali permainan dari kaki ke kaki terlihat di lapangan. Secara postur tubuh kelihatan sekali beda banget antara pemain Argentina dengan lawannya Nigeria. Para pemain argentina bayak yang mirip Maradona bila dilihat dari tinggi badannya. Mereka cuman unggul satu, yaitu diberkahi oleh Tuhan dengan banyak talenta dan keahlian mengolah bola yang mungkin cuman bisa disaingin ama Brazil.

Tampaknya “kemenangan sepakbola” kembali terjadi. Masih ingat khan waktu Spanyol jadi juara Eropa beberapa bulan yang lalu? Semua orang puas pada waktu itu. Karena Spanyol memainkan sepakbola yang indah dan menjadi juara. Dan di olimpiade kali ini Argentina juga demikian. Datang dan memainkan bola dengan sempurna. Dan pada akhirnya ini kembali menjadi kemenangan sepakbola. Kemenangan yang lahir dari permainan laki-laki. Bukan seperti Italia yang bermain hanya untukcari menang aja. Sekali mencetak goal langsung bertahan sampai waktu habis. ihhh.. jangan sampai deh Italia juara dunia lagi… haram…

Rasanya saya sudah nggak sabar mo baca berita-berita esok hari. Tentu saja tentang final sepakbola olimpiade ini. Bukannya mau tau berita tentang kemenangan argentina, tapi cuma pengen tau aja apa alasan panitia menyiksa para pemain bola ini. Dasar parah…

every day is holiday

yah... segitu aja...

Confuse

Dari tadi muter-muter nggak karuan. Bukan jalan mondar mandir tapi browsing kesana kemari nggak menentu. Padahal dari lubuk hati yang paling dalam maunya memanfaatkan waktu seefektif mungkin. Ternyata,.. kosong. Alias omong doang..

Akhirnya instrumentalia Kenny G yang diputar via Winamp yang mulai terdengar mendayu-dayu di telinga. Hasil download dari internet semalam. Maklum sekarang lagi gratis layanan Internet dari provider ku sampai akhir tahun nanti.

Barusan baca blog orang lain. Sedikit menggugah namun belum mampu membangkitkan semangat dan minat yang memang cuman buat baca berita politik dan olahraga. Padahal sekarang lagi ambil Master di bidang Risk Management. Parah…

Sekarang hari Sabtu di bulan agustus. Tapi waktu bangun tadi pagi serasa hari ini hari Minggu. Yah,.. khan emang everyday is holiday for me... Jadi susah bedain mana tanggal merah atau bukan. Makanya nggak gitu ngotot waktu tau di rumah yang baru di Jakarta ini nggak punya kalender. Nggak terlalu butuh. Ya itu tadi, everyday is holiday..

Gitu dulu aja,.. mudah2an ini awal yang baik buat belajar curhat di “Fujitsu” ku.. yang dibeli hasil jualan router dan nyicil di kartu kredit..